• Register

SEKOLAHKU RUMAHKU, Film Anak Indonesia

Author : jusj4mbu    

sekolahku-rumahku1Sekolah Dasar, merupakan pijakan awal anak untuk memasuki gerbang pendidikan formal di Republik ini.

Di level pendidikan inilah – selama 6 tahun dalam balutan kurikulum, sekolah mengenalkan ragam ilmu dan mengajak anak berproses untuk mencapai hasil maksimal yakni penguasaan materi pelajaran dan nilai bagus. Untuk mencapai hasil yang maksimal tersebut, guru berkewajiban mengawal proses perkembangan anak didiknya di sekolah. Sedang di keluarga, orang tua lah yang memiliki kewajiban melakukan itu. Asumsi dalam pembagian peran dan tanggungjawab inilah yang kemudian seolah-olah melahirkan kesenjangan komunikasi antara guru dan wali murid. Harus kita pahami bersama, bahwa sekolah bukan tempat ‘penitipan anak’ di jam sibuk orang dewasa – seperti baby’s day care. Karena itu perkembangan dan tiap progress yang dicapai anak tidak bisa dilepaskan dari interaksi yang secara intensif dilakukan dari masyarakatnya, yakni antara guru, siswa, wali murid dan masyarakat sekitar. Pandangan skeptis masyarakat atas keterlibatannya di sekolah jika hanya pada saat sekolah butuh dana dan rapotan, harus segera kita gugurkan.

 

Ironisnya, hal itu ditambah lagi dengan konsep pendidikan di Republik ini masih terjebak pada artikulasi tekstual pendidikan yaitu study oriented, yang selalu bermain dalam tataran nilai. Padahal, dalam proses belajar (di Sekolah Dasar dan atau di level pendidikan di atasnya) tidak hanya sekedar menyangkut masalah nilai. Melainkan bagaimana proses itu bisa melatih dan merangsang kemampuan individu anak didik (intelektual, sosial dan psykologi) dalam usaha pencapaian nilai yang diharapkan. Mendasarkan pendidikan pada orientasi tekstual hanya akan melahirkan generasi hedonis, jumud dan linglung serta mematikan sensivitas personal dia sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa (kelak).

Di film untuk anak Indonesia, SEKOLAHKU RUMAHKU ini, kita akan terbawa ke dalam ruang pemikiran akan hakekat pendidikan yang menyenangkan. Pendidikan yang tidak sekedar menawarkan ornamen tekstual belaka, tetapi juga mampu menyuguhkan gagasan kongrit atas nilai pendidikan yang kian terabaikan, yaitu belajar dan terus belajar….semur hidup (tidak sekedar wajib belajar 9 tahun – sebagai bagian dari ornamen formal pendidikan di Republik ini). Film ini juga begitu jelas menggambarkan konflik individu beberapa tokoh dan bagaimana lingkungan sangat berpengaruh dalam perilaku dan perkembangan anak.

Film yang diselesaikan awal tahun 2008 ini berangkat dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang diaplikasikan di sejumlah sekolah dasar (SD) di wilayah Surakarta dengan dukungan UNICEF. MBS memberikan kebebasan kepada pihak sekolah untuk berkreasi dan menciptakan gagasan demi kemajuan sekolah. MBS juga memberikan kesempatan pelajaran seperti matematika yang selama ini dianggap momok memperlihatkan wajahnya yang supel, pengaturan tempat duduk di kelas tidak lagi berbanjar statis, dinding penuh warna tidak hanya terpampang foto Presiden dan gambar pahlawan, dan guru yang dulu seolah orang yang paling tahu kini menjelma teman yang penuh atensi dan kreativitas. Film ini semata-mata hanya berusaha menggagas sebuah konsep pendidikan sederhana, yaitu menciptakan suasana belajar yang nyaman, senyaman mereka tinggal dan belajar dengan orang tua mereka di rumah. Membaca SEKOLAHKU RUMAHKU, di situlah akan kita temukan Sekolah yang sebenarnya.

Sumber: http://nanangthinks.wordpress.com

Share on Facebook