Memotivasi Anak Hadapi UN
- Published Date
- Written by Super User
Ujian Nasional (UN) masih dianggap sebagai beban bukan saja oleh siswa, melainkan juga oleh guru dan orangtua. Adakah diantara Anda para orangtua yang mempunyai anak yang akan menghadapi UN awal Mei nanti ? Bagaimanakah bentuk dukungan Anda kepadanya ?
Beberapa orangtua mengatakan bahwa mereka tidak ragu akan kemampuan anak mereka dalam mengahdapi UN. Namun, pada saat anak membutuhkan dukungan penuh dari orangtuanya, justru seringkali orangtua yang menularkan rasa cemas yang berlebihan. Bagaimana kalau UN-nya tidak lulus ? Apakah dia sudah mengerjakan semua latihan kumpulan soal UN tahun lalu?
Selain faktor IQ, anak juga membutuhkan kondisi ideal untuk sukses belajar. Kondisi ideal didapatkan anak jika orangtua menanamkan nilai positif tentang pendidikan anak, memberi perhatian yang tepat dari setiap upaya anak, pendampingan yang penuh kasih tanpa disertai tuntutan dan penekanan.
Segala hal yang dikemas dengan negatif, pasti akan mengedepankan "pesan" negatifnya lebih dahulu sebelum inti pesan positifnya tertangkap oleh anak. Sehingga, anak akan mudah tergoyahkan rasa percaya dirinya, bila mendapati bahwa prestasi temannya lebih bak dibanding dengannya. Jadi, jangan menakut-nakuti anak Anda, mengkondisikan bahwa kalau tak pandai takkan jadi orang.
Tugas orangtua terkait dengan upaya mempersiapkan anak menyonsong masa depan adalah dengan memotivasi, mendampingi dan mendukung anak.
Ketika anak tidak memenuhi harapan, orangtua sibuk menyalahkan orang lain atau hal lain di luar dirinya. Bukankah saat kita menunjuk keluar, tiga jari otomatis tertuju pada diri?
- Sadarilah bahwa tugas orangtua adalah memfasilitasi anak agar menemukan kebenaran melalui pengalamannya sendiri bukannya memaksakan apa yang dianggap kebenaran sebagai hasil pengalaman.
- Kenalkan anak pada cara belajar efektif, seperti metode Mind Mapping yang telah ditlis oleh eductory pada artikel akhir Maret lalu. Mengulang pelajaran yang tadi diberikan guru. Membuat intisari dari tiap bab yang telah dilalui. Berdiskusi mengenai kaitan pelajaran dengan kehidupan nyata.
- Biasakan berorientasi pada proses dan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir. Anak perlu memperoleh reward atas usahanya, tidak melulu reward pada hasil akhir yang ia peroleh.
- Jangan jadikan gengsi Anda sebagai acuan untuk menilai kemajuan dan keberhasilan pendidikan anak. Di dalam gengsi ada unsur harapan dan keinginan yang merupakan "show off" Anda, bukan pengakuan atas kelebihan dan kekurangan anak Anda.
- Biasakan untuk membuat Anda berpikir, bersikap, berperilaku positif. Dengan begitu energi yang memancar dari Anda juga terserap oleh anak.
- Berikan hak anak untuk bermain dan bergembira bersama teman sebaya. Anak berhak memiliki hobi dan peluang menampilkan diri di bidang lain di luar prestasi akademiknya. Bila anak punya bakat gitar berikan kesempatan bermain di pentas sekolah. Dengan begitu anak menumbuhkan rasa percaya dirinya. Pada akhirnya, anak juga akan lebih percaya diri dalam belajar.
Sebagai orangtua, tak ada kata lelah, putus asa, apalagi lengah mengenai berbagai hal terkait dengan anak. Antusiasme dan sikap ceria orangtua akan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak dalam mengeksplorasi dirinya. Ini semua adalah landasan kokoh bagi tumbuhnya kesadaran mandiri dalam diri orangtua untuk mengoptimalkan potensi anak (disadur dari Media Indonesia Online).
Selamat Hari Pendidikan Nasional !




































